Header Ads

LinkedIn Rilis Survei Trend Pencari Pekerjaan di Media Sosial

Aisha News - Sekarang ini para pencari kerja lebih cenderung mencari kesempatan dan lowongan kerja melalui internet. Canggihnya teknologi informasi yang sudah mencakup dan tersebar hingga pelosok membuat dampat yang positif. Lewat situs lowongan kerja online ini menjadi alterneatif yang bisa diandalkan untuk pilih - pilih pekerjaan sesuai kompetensi para pencari kerja.

Baru - baru ini sebuah situs jejaring sosial terkemuka LinkedIn merilis hasil survei tentang kecenderungan para user memanfaatkan situs komunitas online tersebut untuk mencari kerja. LinkedIn, sebuah situs jejaring profesional yang banyak dikunjungi merilis bahwa para profesional di Indonesia lebih banyak bergantung kepada media online untuk mencari kesempatan kerja, dibandingkan dengan iklan atau web perusahaan secara langsug.

LinkedIn memposting tentang laporan Talent Trends 2015 pada hari Kamis (10/07/2015), dalam web tersbut diberitakan bahwa lebih dari setengah atau 57 persen dari para profesional di Indonesia yang telah disurvei memanfaatkan situs lowongan kerja online untuk mengakses berbagai kesempatan serta lowongan kerja, hampir sama jumlahnya dengan yang memanfaatkan jasa jaringan profesional online seperti LinkedIn yang mencapai 56 persen.

Lebih lanjut, studi itu juga merilis jumlah pencari kerja di Tanah Air yang meningkat pada tahun 2015. Hasil laporan Talent Trends 2015 dari LinkedIn tersebut menyebutkan bahwa lebih banyak para profesional di Indonesia yang dengan aktif mencari pekerjaan tahun ini, yaitu sebanyak 34 persen bila dibandingkan tahun lalu yang hanya mencapai 29 persen saja.

Hasil angka tersbut juga lebih tinggi dari angka secara global yang hanya mencapai sebesar 30 persen. Selain itu, hasil olah data yang ada mengungkap bahwa sebanyak 83 persen profesional di Indonesia, baik kandidat aktif ataupun pasif, mengaku tertarik untuk mendengar tawaran langsung dari perekrut atau istilahnya disebut headhunter, melampaui persentase rata-rata angka global sebesar 78 persen.

Dalam laporan itu juga menunjukkan bahwa lebih banyak para profesional di Indonesia yaitu sebanyak 51 persen yang berpandangan tingkat kompensasi dan skil individu sebagai faktor utama dalam mempertimbangkan tawaran kerja. Angka itu lebih tinggi dari angka tahun lalu yang hanya sebesar 44 persen.

Bila dibandingkan dengan Negara tetangga Singapura, angka tahun ini sama dan sedikit lebih rendah dari Malaysia yang mencapai 52 persen. Maka konsekuensinya, semakin berkurangnya profesional yang menempatkan faktor keseimbangan antara kehidupan pribadi serta pekerjaan sebagai prioritas utama, hanya 35 persen saja dibandingkan angka di tahun 2014 yang sebanyak 40 persen.

Bila dibandingkan dengan negara lain, angka tahun 2015 itu lebih rendah dari para profesional Malaysia sebesar 45 persen, namun disisi lain lebih tinggi dibanding profesional di Singapura yaitu 32 persen yang menyebutkan hal ini sebagai faktor penting dalam memutuskan untuk menerima sebuah lowongan pekerjaan.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.