Header Ads

Setelah Kisruh Di Vietnam China Dianggap Melanggar Perbatasan

Aisha News - Sebuah aksi protes anti-China yang telah berlangsung di Vietnam berujung dengan pembakaran belasan pabrik. Akibat kejadian ini, dikhawatirkan hubungan dari China-Vietnam akan semakin memanas.

Para demonstran sendiri diketahui telah melakukan pembakaran terhadap perusahaan yang beratas namakan dimiliki dan dijalankan oleh warga China. Peristiwa tersebut telah berlangsung di Provinsi Binh Duong.

Demonstran tidak hanya melakukan pembakaran saja, massa yang marah dilaporkan turut melakukan aksi anarkis lain, misalnya menyerang penjaga keamanan pabrik. Meski berujung dengan kericuhan, Otoritas Vietnam menyatakan bahwa tidak ada korban luka atau jiwa yang jatuh.

Otoritas Vietnam segera meluncurkan pasukan anti huru-hara untuk meredakan situasi. Tidak hanya itu, Pemerintah Vietnam juga mengatakan bahwa mereka akan mengambil tindakan tegas kepada setiap pelaku kerusuhan.

"Akan ada sanksi berat untuk setiap orang yang telah melancarkan serangan dan memperburuk situasi," ungkap Tran Van Nam, pejabat lokal Vietnam, seperti dikutip dari New Strait Times, pada Rabu (14/5/2014).

Meski sudah mengatakan akan bertindak keras, Pemerintah Vietnam menolak untuk lebih jauh memberikan komentar terkait kerusuhan yang berawal dari protes anti-China tersebut.

Kondisi yang memanas antara China-Vietnam saat ini tidak berada dalam kondisi yang baik. Pada kenyataanya, kedua negara tengah terlibat sengketa Laut China Selatan.

Sebelumnya China juga dikabarkan telah melanggar komitmen perbatasan. Mengingat, baru-baru ini kondisi di Laut China Selatan kian memanas. Pihak China sendiri mengklaim bahwa Laut China Selatan merupakan wilayah teritorialnya.

"Sebelumnya China sudah membuat komitmen dengan pihak Amerika Serikat (AS) terkait dengan masalah Laut China Selatan. Akan tetapi pada kenyataanya China dianggap telah mengganggu perbatasan negara yang ada di sekitarnya," ungkap J. Stapleton Roy, mantan Duta Besar AS untuk kerjasama Indonesia dan China, di Jakarta, Rabu (14/5/2014).

Berdasarkan laporan, menyebutkan bahwa China tidak mengetahui batas dari wilayahnya sendiri. Sudah seberapa kali China juga ikut mengganggu kepulauan Senkaku, yang telah diakui milik Jepang. Pihak AS dan Indonesia akan fokus untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

Diketahui, Indonesia dan AS akan bekerjasama mengatur hukum internasional di Laut China Selatan. Dalam forum diskusi terbuka USINDO yang digelar kemarin, Roy juga menganggap pihak AS sangat berperan penting terhadap Indonesia dan negara yang ada di wilayah Asia Tenggara.

Hal tersebut disebabkan karena kerja sama AS dan Indonesia sudah menghasilkan bentuk positif.
Diberdayakan oleh Blogger.