Header Ads

Tatar Crimea Inginkan Otonomi Lebih Luas

Aisha News - Crimea, yang saat ini menjadi pergunjingan dan menjadi wilayah sengketa, masih berusaha menemukan titik terang terkait masalah otonomi yang diinginkan. Etnis Tatar Crimea saat ini sedang mempertimbangkan berbagai kemungkinan untuk menggelar referendum demi mendapatkan otonomi lebih besar dan pasti. Akan tetapi, langkah ini dikhawatirkan akan memperpanjang krisis yang terjadi di Crimea.

Pihak Majelis Tatar Crimea telah membentuk sebuah kelompok khusus yang akan bertugas mengkaji kemungkinan akan digelarnya referendum untuk satu kelompok etnis. Itulah pernyataan dari Refat Chubarov, pemimpin Tatar, pada Selasa (1/4/2014) malam.

"Saat ini kami sedang mencari presiden internasional dan organisasi internasional yang diharapkan dapat membantu kami dalam memecahkan masalah ini," ungkap Chubarov.

Para Anggota perwakilan etnis berbahasa Turki ini, yang diketahui berjumlah sekitar 300.000 dari 2 juta jiwa penduduk Crimea, telah dijadwalkan akan kembali berkumpul sebelum tanggal 15 April 2014 mendatang untuk mempertimbangkan isu referendum tersebut.

Hasil dari sebuah kongres darurat Tatar Crimea yang dilaksanakan pada pekan lalu telah memutuskan untuk tetap memperjuangkan otonomi yang lebih besar untuk mereka di wilayah semenanjung itu dalam sebuah langkah yang dianggap adalah sebuah bentuk perlawanan terhadap Kremlin.

Mustafa Dzhemilev, pemimpin spiritual Tatar -yang juga merupakan anggota dari parlemen Ukraina- menyatakan bahwa sebagian besar etnis Tatar lebih memilih untuk bergabung dengan Ukraina. Sampai sejauh ini Moskwa masih tetap bungkam soal langkah etnis Tatar Crimea tersebut.

Pemerintah Crimea juga diketahui telah menawarkan para tokoh Crimea untuk sejumlah jabatan di pemerintahan. Akan tetapi, etnis Tatar meminta sistem kuota untuk lebih memastikan suara mereka lebih terwakili di dalam pemerintahan.

Vladimir Konstantinov, salah seorang pemimpin parlemen Crimea, mengatakan bahwa perwakilan etnis Tatar akan selalu dilibatkan secara aktif dalam berbagai pengambilan keputusan.

Konstantinov seperti tidak terlalu menganggap serius keinginan dari etnis Tatar untuk menggelar referendum untuk meminta otonomi lebih luas bagi mereka.

Pada awal pekan ini, Mustafa Dzhemilev yang dalam sebuah sidang tertutup DK PBB mengatakan, bahwa sebanyak 5.000 warga etnis Tatar sudah meninggalkan Crimea dan memperingatkan tentang kemungkinan terjadinya pertumpahan darah di semenanjung itu.

Tatar Crimea, penduduk asli dari semenanjung itu, telah hidup selama berpuluh-puluh tahun di Asia Tengah saat Joseph Stalin yang berkuasa di Uni Soviet memerintahkan deportasi, karena etnis Tatar dianggap menjadi kolaborator untuk Nazi.
Diberdayakan oleh Blogger.