Header Ads

Fenomena Alam Gerhana Matahari Total

Aisha News - Gerhana Matahari Total (GMT) telah usai yang melintasi di atas nusantara. Hal ini karena fenomena alam tersebut sungguh sangat langka sekali. 

Indonesia yang merupakan negara dilintasi GMT 2016 hari ini. Totalitas gerhana akan dimulai dari Utara, Kepulauan Mentawai selanjutnya Sumatera Barat dengan ini waktu penentuan yaitu pada pukul 7:18 waktu setempat serta berakhir di daerah Maba, Maluku Utara, yaitu pada pukul 9:56 waktu setempat.

Pemburu gerhana sekarang ini dimulai dari turis sampai peneliti dari mancanegara, dengan berbondong-bondong langsung mendatangi delapan kota yang berada di Indonesia yang akan dilintasi GMT dalam upaya untuk membidikkan kamera dengan pengamatan mereka.

Ilmu pengetahuan tentang GMT yang merupakan sebuah momen dalam upaya untuk membuktikan sebuah teori relativitas Einstein. 

GMT pada hari ini seolah-olah perayaan rasionalitas masyarakat di Indonesia. GMT sekarang tidak menjadi sebuah fenomena yang menakutkan namun dengan hal ini seperti yang pernah terjadi pada tahun 1983.

Pada waktu itu Bpk Soeharto telah melarang seluruh masyarakat upaya untuk melihat gerhana secara langsung karena dapat menyebabkan kebutaan. Tidak terdapat satupun gugatan yang sangat rasional tentang bagaimana menyiasati pada proses pengamatan gerhana.

Pada jaman dahulu bahkan lurah yang memerintahkan kepada anak-anak diikat supaya tidak keluar rumah. Dokter pun menganjurkan untuk menutup mata kambing dan hewan ternak yang lain supaya tidak buta.

“Cuaca kultural dalam menyikapi gerhana sekarang sudah berubah,” ungkap astronom dan filsuf seorang pengajar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Karlina Supeli. 

Soal adanya momen gerhana, peradaban manusia pada era modern telah bertransformasi secara kultural. Dahulu ketika manusia tidak memahami tentang apa yang telah terjadi saat waktu siang tiba-tiba berubah gelap gulita, munculah dari beragam cerita untuk memaknai dari ketidaktahuan.

Karlina telah mengingatkan, ”cuaca” kultural yang membaik yaitu momentum untuk masyarakat untuk mengedepankan rasionalitas dan keilmuan. Peristiwa alam, kata dia, bukan untuk ditakuti, tapi untuk dipahami. GMT yaitu momentum untuk mencerdaskan masyarakat dalam memahami dirinya dan lingkungannya.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.