Header Ads

Najmiah (ALM) Penyetor Uang Rp 300 Miliar ke Dimas Kanjeng Diduga Diracun

Aisha News - Meninggalnya Nenek Najmiah, para pengikut Dimas Kanjeng Taat Pribadi yang berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan, bahwasannya telah mendapat mendapat perhatian sangat serius dari penyidik Polda Jatim.

Najmiah telah menyetor uang Rp 300 miliar kepada padepokan Taat Pribadi, kemudian Najmiah mendapat emas batangan palsu dan mata uang asing palsu.

Kabarnya Najmiah telah meninggal dunia, sesudah minum ramuan bening yang telah diberikan Taat Pribadi.

Polisi berjanji akan terus menyelidiki laporan terkait adanya pembunuhan dengan ramuan racun.

"Tentunya penyidik akan mencari informasi atau data pada rumah sakit yang menangani korban Najmiah. Apa diagnosanya ketika korban masuk rumah sakit," ujar Kabid Humas Polda Jatim, Kombes RP Argo Yuwono, didampingi

Kasubdit Kejahatan dengan Kekerasan Direskrimum AKBP Taufik Herdiansyah, Sabtu (1/10/2016).

Argo Yuwono menjelaskan pihaknya masih menerima laporan penipuan dari keluarga Najmiah.

"Laporan sementara penipuan tapi nanti akan dikembangkan. Tentunya membutuhkan waktu," ujar Kombes Argo.

Argo belum berani berspekulasi apakah makam korban Najmiah nantinya dibongkar untuk keperluan penyidikan.

Sekarang ini penyidik masih fokus pada laporan M Najmur, anak Najmiah, pada Jumat (30/9).

M Najmur datang ke Polda Jatim didampingi anggota DPR, Akbar Faisal. Menurut Akbar Faisal, Najmiah sempat minum ramuan cair bening dari Taat Pribadi.

Tidak lama korban minum cairan bening itu kemudian sakit dan dirawat di sebuah rumah sakit di Singapura.

"Selama sakit, ujung tangannya menghitam. Belum tahu penyebabnya karena dokter belum sempat mendiagnosa. Dia (korban) lalu meninggal dunia. Ramuan itu sudah habis tanpa sisa," ujar Akbar Faisal saat di Polda Jatim.

Dugaan kuat, cairan yang diberikan itu terlebih dahulu dicampur dengan racun tertentu yang tidak berbau. Jenis racun yang diberikan ini dapat dikategorikan tergolong lambat atau tidak langsung menimbulkan Meninggal.

Cara kerja racun itu lambat sehingga korban seperti menderita penyakit akut maupun kronis.

Korban mengalami sakit perut dan mual kemudian fungsi lever serta ginjal akan terganggu, sampai berujung Meninggal.

Racun jenis ini walau orangnya telah meninggal dunia yang cukup lama dapat dideteksi lewat rambut dan kuku.

Kombes RP Argo Yuwono menandaskan Dimas Kanjeng Taat Pribadi dalam penyidikan di Polda Jatim dijerat dua perkara yaitu penipuan dan pembunuhan berencana terhadap Ismail, seorang pengikutnya.

"Laporan sementara yang masuk di Polda Jatim ada empat. Kami mengimbau pada masyarakat yang merasa dirugikan supaya lapor ke polisi terdekat," ujar Kombes Argo.

Tim gabungan dari Ditreskrimum, Ditreskrmisus dan Bid Propam Polda Jatim yang menangani dugaan pemalsuan uang dan penipuan penggandaan uang, Senin (3/10) mendatang akan melakukan penelusuran lebih dalam.

Turunnya tim gabungan ke padepokan Dimas Kanjung Dimas Taat Pribadi di Dusun Sumber Cengkelek, Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, untuk mendeteksi uang palsu dan besi yang dilapisi kuningan sehingga mirip emas.

Najmiah, setelah beberapa kali menyerahkan uang, mendapat lima bendel terbungkus kertas cokelat, peti berisi emas batangan, dan beberapa uang asing.

Sebagaian barang diberikan langsung dan sebagian dikirim ke Makassar melalui jasa pengiriman.

Ternyata lima bendel itu hanya berisi potongan kertas putih. Emas batangan hanya besi dilapisi kuningan.

Sedangkan uang asing yang diterima dari Kanjeng Dimas adalah uang palsu.

Hingga korban meninggal dunia, potongan kertas tetap menjadi kertas dan besi yang dilapisi kuningan tetap tidak berubah menjadi emas batangan.

Hajjah Najmiah Muin (1942-2016), ternyata hampir tiga tahun menyembunyikan kedekatannya dengan Kanjeng Dimas Taat Pribadi (46).

Putra bungsu almarhum, M Najmur Muin (41) melapor ke polisi Jawa Timur, ada sekitar Rp 200 miliar uang ibunya yang 'jadi mahar' ke Kanjeng Dimas Taat Pribadi.

Dia sendiri pernah mengantar Rp 10 miliar, dalam lima koper berisi uang pecahan Rp 100 ribu dari Makassar ke Surabaya.

"Ibu saya pernah bilang, pada wakrtunya, uangnya akan jadi Rp 18 triliun," katanya di Surabaya, Jumat (30/9/2016) lalu.

Sebelum ibunya meninggal, dunia, 8 Mei 2016, keluarga sudah sadar ibunya, tertipu.

Suami almarhumah, Prof Dr Muin Liwa Msi, Guru Besar Peternakan Unhas, sudah mengingatkan.

Tapi, karena uang itu hasil pejualan tanah ibunya di Tanjung Bunga, Tidak ada anak dan keluarga yang berani membantah.

Si ibu memang tegas, pekerja keras, dan disegani oleh empat anak dan kerabatnya.

Ternyata Bunda, sudah kenal dengan Kanjeng asal Probolinggo itu, sebelum putrinya, Muhyina Muin, bertarung di Pilwali Makassar, Oktober 2013 lalu.

Tanggal 27 Juni 2014, saat mendampingi 'deklarasi" putrinya sebagai kader Golkar di Stadion Prasamiya, Majene, Sulawesi Barat, kepada Tribun, wanirta yang akrab disapa "Bunda" itu sempat mengisyaratkan kedekatannya dengan Kanjeng yang dia sebut "guru saya di Jawa Timur".

Ibu empat anak, dan suami dari guru besar Peternakan Unhas, Prof Dr Muin Liwa Msi (69) ini, membawa 'cindera mata sang guru"; tongkat berkepala elang.

Tongkat itu berlapis emas dan bertahta berlian. dan Bunda menyebut tongkat itu sakral.

"Ini tongkat komando. Ini cuma dapat dipegang sama saya, tidak boleh orang lain," kata Najmiah.

Dalam perjalanan dari Makassar ke kabupaten berjarak 302 km utara Makassar itu, Si Bunda bercerita, tongkatnya Tidak dapat dinilai dengan uang.

Tongkat itu terbungkus emas merah dan putih serta dihiasi dengan berlian, dari sejumlah keterangan kerabatnya, tongkat itu diperoleh Najmiah dari anak seseorang yang dianggap gurunya di pulau Jawa, pertengahan 2013.

Najmiah selalu membawanya ke acara tertentu yang melibatkan orang banyak.

Hanya terkadang tongkatnya dibungkus kain untuk tidak memamerkan kilauannya.

"Tadi saya mau bungkus cuman saya dilarang. Biasanya memang saya bungkus kain putih," kata Najmiah.

Ternyata saat itu, dia sudah menjadi Kooordinator Padopokan Kanjeng Dimas di Sulawesi Selatan.

Bunda mulai rajin menggelar pengajian yang ustadnya dari Padepokan Kanjeng di Probolinggo.

Hampir tiap dua bulan, hingga awal tahun 2016, Bunda ke Proboliggo, via Surabaya atau Jakarta.

Najemiah saat itu, bercerita, tanda keanggotaan setiap anggota Dimas Kanjeng adalah gelang benang putih.

Gelang ini identitas sekaligus memudahkan anggota padepokan saling bertegur sapa.

Gelang itu harus dikenakan tiap hari, khususnya saat pertemuan sesama anggota padepokan.

Salah seorang sumber Tribun-Timur.com, yang kerap ke rumah almarhumah, di Jl Sunu, Kompleks Perumahan Dosen (Perdos) Unhas, blok K, nomor 10, Kecamatan Tallo, Kota Makassar, menceritakan anggota padepokan Dimas Kanjeng masih banyak di Makassar. www.tribunnews.com (Tribun Jateng/Surya/Tribun Timur)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.